Minggu 5 Juli 2026 - 05:25
Prinsip-Prinsip Tetap Imam Khamenei Tidak Berubah

Hawzah/ Ketua "Persatuan Ulama Perlawanan Sedunia", dalam meninjau kembali kenangan-kenangan pertemuan dan korespondensi, merinci tahapan-tahapan yang telah menyertainya bersama Imam Khamenei.

Berita Hawzah  Dunia Islam dan banyak orang merdeka di seluruh dunia sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Ayatullah al-Uzma, Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei; salah satu pemimpin paling terkemuka yang memadukan kedalaman agama, pengalaman politik, dan semangat perlawanan. Namanya sepanjang perjalanannya selalu terkait dengan pembelaan terhadap nilai-nilai luhur Islam, dukungan terhadap cita-cita kaum mustadh'afin (tertindas), dan upaya untuk memantapkan konsep persatuan dan kemuliaan dalam umat Islam. Banyak orang mengingat sikap-sikapnya yang menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai arus, mazhab, golongan, dan agama.

Ketua "Persatuan Ulama Perlawanan Sedunia", Syaikh Maher Hammoud, dalam meninjau kembali kenangan-kenangan pertemuan dan korespondensi, merinci tahapan-tahapan yang telah menyertainya bersama Imam Khamenei; awal perkenalan ini kembali ke tahun 1981, ketika beliau menjadi ketua Partai Republik Islam dan Imam Jumat Teheran, sebelum kemudian menjabat sebagai presiden dan kemudian pemimpin revolusi.

Syaikh Hammoud menceritakan tentang pertemuan itu: Berlangsung sekitar tiga jam dengan sebuah delegasi kecil Palestina, di mana dibahas tentang koalisi-koalisi revolusi, pandangannya terhadap musuh-musuh, dan prinsip-prinsip yang mengatur perilaku revolusi sebelum dan sesudah kemenangan. Dia menegaskan bahwa apa yang disampaikan dalam pertemuan itu tetap konsisten dan hadir selama empat puluh tujuh tahun.

Selain itu, Syaikh Hammoud juga menyebutkan pertemuan-pertemuan lain pada tahun 1982 setelah beliau terpilih sebagai presiden, dan pertemuan lain pada tahun 1989 setelah terpilih sebagai pemimpin revolusi, yang ia gambarkan sebagai pertemuan terakhir mereka.

Konsistensi Pidato Sang Sayyid

Syaikh Hammoud menegaskan: Isi pembicaraan yang ia dengar dari Imam Khamenei pada tahun 1981 tetap konsisten hingga saat syahadahnya, dan ia menganggap hal ini sebagai bukti kejelasan pandangan dan keteguhan pada prinsip-prinsip. Ia menambahkan: Prinsip fundamentalisme (konsistensi pada dasar) yang mengatur perilaku revolusi dan pemimpinnya ini, patut dihormati oleh seluruh umat Islam dan bahkan orang-orang merdeka di dunia; meskipun konspirasi Amerika berusaha merusak citranya dengan berfokus pada perbedaan-perbedaan sektarian dan etnis, serta menimbulkan ketakutan bahwa revolusi sedang mencari "ekspansi" atau "proyek Persia".

Ia menekankan: Imam Khamenei, dalam sikapnya yang teguh, pemikirannya yang jernih, dan keikhlasannya terhadap revolusi dan rakyat, bertindak sedemikian rupa sehingga tidak ada orang adil yang dapat meragukannya. Ia memandangnya sebagai pemimpin yang menginspirasi, yang tindakan dan ketabahannya, serta upaya musuh untuk menargetkannya, menjadi bukti atas hal itu.

Hubungan Berkelanjutan dengan Pemimpin Syahid

Syaikh Hammoud menceritakan tentang surat-menyurat yang terjalin: Hubungan itu berlangsung secara terus-menerus, dan ia mengirimkan pandangan-pandangannya tentang berbagai masalah kepada beliau. Ia mengingat kembali peristiwa film karya Majid Majidi tentang masa kecil Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam) yang diputar di Beirut pada tahun 2015; karena ia melihat adanya isykal syar'i yang jelas dalam film tersebut, ia mengirimkan surat, dan setelah itu, pemutaran film dihentikan. Ia juga menyebutkan surat-surat mengenai undangan untuk menghadiri konferensi-konferensi, dan mengatakan bahwa baru-baru ini ia menerima surat dari Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei yang berisi ucapan terima kasih atas surat yang ia kirimkan.

Sepucuk Surat dari Imam Khamenei

Syaikh Hammoud merujuk pada sepucuk surat yang dikirimkan Imam Khamenei kepadanya, di mana beliau menasihatinya untuk terus berjuang melawan rezim Zionis; sebuah perjuangan yang menurut surat tersebut memiliki berbagai bentuk, termasuk perjuangan militer, media, budaya, dan pendidikan.

Dialog Terus-menerus Pemimpin Syahid dengan Ulama Ahlus Sunnah

Syaikh Hammoud merujuk pada keterbukaan Imam Khamenei dan penghormatan beliau terhadap agama-agama dan mazhab-mazhab, mengatakan: Beliau sangat bersemangat untuk bertemu dan berdialog. Buku "Muhammad" yang didistribusikan secara luas, mencerminkan pemikiran-pemikiran beliau yang mempersatukan. Ia menambahkan: Para ulama Ahlus Sunnah di Balochistan, Kurdistan, dan Arab Saudi secara terus-menerus berdialog dengan beliau, dan beliau memperlakukan mereka dengan penuh hormat.

Mencapai Apa yang Diidamkannya

Menurut Syaikh Hammoud, Imam Khamenei yang saat itu berusia sekitar 87 tahun, menjalani hidupnya di jalan kebenaran. Ia berkata: Imam selalu mengulangi pada dirinya sendiri: "Apa yang diinginkan orang-orang Israel dariku? Mereka ingin membunuhku. Aku tidak mengelola negara, yang mengelola negara adalah para pemuda. Jadi jika Allah mengakhiri hidupku dengan syahadah, itu adalah sesuatu yang agung dan itulah yang aku cita-citakan."

Syaikh Hammoud di akhir pernyataannya mengatakan: Imam telah mencapai apa yang diidamkannya, dan hidupnya berakhir di puncak kemuliaan dengan syahadah.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha